Beranda DAERAH Tangguak Rapek Karanjang Jarang

Tangguak Rapek Karanjang Jarang

117
BERBAGI

Oleh : Safrudin Nawazir Jambak

Kali ini goresan kami soal Tangguak Rapek Karanjang Jarang (Jaring Rapat, Keranjang Jarang).  Ini jamak dipahami tapi tak banyak memahami, kalimat itu adalah ungkapan yang sarat mengandung makna.

Ini tulisan kedua. Sebelumnya kami bahas soal Taimpik Ndak diateh, Takuruang Ndak dilua (TND-TND) ya kali ini soal TRKJ. Menarik untuk di simak, sayang tidak dibaca sampai selesai.

Tangguak rapek, dengan harapan semua ikan yang didapat baik besar dan kecil semua bisa ditangkap, semua bisa di ambil dan dikumpulkan dengan harapan tiba di rumah ikan banyak, keluarga dirumah juga senang melihat hasil.

Manangguak” (menangkap) ikan luar biasa bahkan mungkin bisa juga sebahagian dijual atau disimpan untuk beberapa hari kedepan dan sedikit berbagi dengan sanak keluarga dan tetangga.

Tangguak rapek, memang ada tangguak yang jarang tetapi tidak jadi dipakai karna kalau jarang ikan-ikan kecil termasuk pantau dan udang akan lolos kebawah, keluar kembali jatuh ke sungai, tangguak rapek yang dipakai agar semua tertangkap kalau perlu rinuak dan pantau tarusanpun masuk, tangguak rapek.

Bila ada yang jarang segra di jahit, bila ada yang tergede juga langsung ditambal agar tangguak rapek. Tangguak rapek, pokoknya perhatian kepada upaya proses, cara dan strategi mendapatkan ikan dengan segala jenisnya sudah optimal dilakukan, usah lagi disebut.

Apapun. Bagaimanapun dan semaksimalpun agar rangguak rapek. Kadang dengan sudah sangat yakinya tangguak rapek, tangguak ditinggal di pintu air lalu pergi ke atas hulu guna memburu semua jenis ikan turun mengikuti arus dan masuk ke tangguak rapek.

Tangguak rapek, semua usaha dilakukan agar penghasilan bertambah, tentu yang halal. Kadang juga lembur dan kerja sampingan bagi yang kantoran, baik yang negri/PNS maupun wiraswasta sama saja Cuma beda nama, yang intinya mencari nafkah untuk keluarga menghidupi anak dan istri tidak pandang siang dan malam, pagi dan petang, hujan ataupun panas.

Tangguak rapek, kan sudang dibilang tadi usah lagi disebut, mau ibadah semua sudah dikerjakan dari yang wajib sampai yang sunat, yang makruh? yang makruh sudah ditinggalkan, dari puasa hingga haji dan umroh, sedekah. Sedekah tiap hari bahkan donasi diberbagai lembaga amal, pokonya diberbagai kesempatan beramal sangat merasa rugi kalau tidak ikut, minimal soto sakaki.

Tangguak rapek, ee, malah diulang lagi, kan sudah dibilang jangankankan Musrenbang, Renja OPT, ada pula namnanya pokok pikiran (POKIR) DPRD, kalau belum tau ada namanya rencana tenokratik, rencana politis dan rencana partisipatif.

Tangguak rapek, sudah dibahas panjang diberbagai rapat tingkat dinas, tim anggaran pemda (TAPD), sudah pula rapat dengan komisi terkait, dengan banggar hingga rapat gabungan komisi dan paripurna dewan. Pokoknya perhatian untuk tangguak rapek telah melibatkan prof.elfindri pakar ekonomi UNAND dengan tim pakar lainya agar tangguak rapek.

Keranjang jarang. Aaa ini yang lupa, kan Keranjang bagus?, kata siapa bagus, keranjang untuk taweh sampah memang bagus, baru lagi, tetapi kan jarang, dianyam khusus untuk menyaring sampah bukan tempat ikan, yang untuk tempat ikan?..sudah jarang, belobang dan cabiak-cabiak.

Keranjang jarang, tiba dirumah sudah bangga pula dengan ikan yang banyak, tetapi apa mau dikata ikan kosong di keranjang, apa mau dikata keranjang jarang, kurang cermat mengatur keuangan keluarga, belanja ini dan itu yang tak jarang hanya memperturutkan hawa nafsu, kredit ini dan itu yang kadang tidak terlalu urgen. akhirnya banyak ditarik dealer, gigit jari. kasihan.

Karanjang jarang, sudah sangat PD mau masuk syurga..opss mau kemana ,kencang amat?kata malaikat,mau ke syurga!, stop dulu. Anda bukan ahli syurga, amal anda kurang bahkan anda bangkrut amal, tapi saya sudah banyak beramal di dunia, ya tapi disini kosong,kok bisa?, padahal saya sudah bersitungkin beribadah, kok begini jadinya. menyesal.!!

Keranjang jarang, volume pekerjaan kurang, ketika diulang mengukur kurang, kurang sekali, kwalitas payah, harusnya 5 sak tapi kan tidak ada yang tahu hanya 3 sak, apalagi diburu dikerjakan malam, didaerah tersurukpun jg begitu hitunganya tahan lima tahun, tp 4 bukan sudah banyak berlobang, sudah banyak yg terban karna semen kadang bercampur tanah.

Karanjang jarang, ya kok diulang, malu kami, kami sering menipu Tuhan,kami yakin Tuhan tidak tahu, memang jarang kami diskusikan soal out put (keluaran), out come (hasil), impack (hasil) serta benefit (dampaknya pada peningkatan perekonomian rakyat).  Ya maaf diskusi dan tegang urat leher sampai kesini memang tdk sempat, kami sibuk, sekali lagi mohon maaf.

Tangguak rapek karanjang jarang. Baru kami tahu bahwa kami harus menoleh karanjang, kami harus “care” tempat kami menampung ikan , kami harus lihat ikan aman atau tidak, jika karanjang bocor mana ikan bisa ditampung, hanyut lagi dia.

Kalau amal di campur syirik mana pahala akan terkumpul, bersitungkin lah tiap hari sholat tp ke dukun rajin, habis amal kita, kalau puasa sunnat rajin, tapi sillaturrahim tidak dijaga jg tertunda pahala amal. Kalau sedekah rutin tapi SMS (senang melihat orang susah, susah melihat orang senang) alias hasad dihati dipelihara mana rekening akan membengkak, kurus malah.

Tangguak rapek karanjang jarang. Jika pengawasan lemah, jika kejujuran tipis, jika profesionalitas kurang tentulah hasil pekerjaan kurang dan bahkan buruk, apalagi perencanaan ambu radul. Masyarakat butunya A, perencanaan di buat B, kalaupun semua sudah direncanakan dengan baik tapi pengawasan lemah hasil juga kurang maksimal.

Tangguak rapek karanjang jarang, makna yang dalam untuk direnungi dalam pekerjaan dunia dan akhirat, makna yang dalam untuk meningkatkan pengawasan dan evaluasi/muhasabah dalam seluruh aktivitas kita.

Tak pandang apapun posisi dan kedudukan sosial, tak pandang setinggi apapun ilmu dan pengetahuan, pituah minang yang diwariskan oleh peradapan minang tempo dulu untuk menjadi pengajaran dan tazkirah/peringatan bagi semua yang mau belajar sepanjang hayat, mau mendengar nasehat walau dari sumber yang barangkali kurang berkenan. Wallahu a’lam bissawab

(Penulis adalah politisi Partai Keadilan Sejahtera dari Provinsi Sumatera Barat)

loading...